Kamis, 19 November 2009

Sastra Melayu Klasik

     Karya sastra Melayu klasik adalah sastra yang berkembang pada masyarakat Melayu tradisional. Secara umum bentuk karya sastra Melayu klasik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Nama penciptanya tidak diketahui ( anonim )
2. Berisifat prologis, mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum
3. Berkembang secara statis dan mempunyai rumus yang baku. Misalnya, dalam prosa, menggunakan kata-kata sahibul hikayat, hatta, dan konon.
       Sastra Melayu identik dengan sastra lisan. Dikatakan demikian karena sastra Melayu adalah sastra yang hidup, dikatakan dari mulut ke mulut. Sastra lisan terdiri atas 6 macam, antara lain :
1). mantra, 2) etilogi, 3) teka-teki, 4) fabel, 5) cerita jenaka, 6) cerita pelipur lara.. Karya-karya sastra melayu tersebut mengandung nilai-nilai kehidupan sesuai dengan jenisnya.         
                   
1. Mantra
        Mantra adalah perkataan (ucapan) yang dapat mendatangkan daya (kekuatan gaib), misalnya, kekuatan untuk menyembuhkan sakit, menyuburkan tanah dll.                                                          
2. Etilogi
        Etilogi adalah cerita tentang asal usul nama benda, nama tempat, atau suatu keadaan atau suatu peristiwa. Cerita ini timbulnya karena orang tua menghadapi pertanyaan-pertanyaan anak kecil yang belum dapat berpikir secara logis,
Contoh :                                                                                                                            
Mengapa pohon di hutan besar, sedangkan yang tumbuh di kampung kecil-kecil ? Dahulu kala pohon yang besar itu adalah raksasa. Karena berdosa, dikutuklah raksasa tersebut menjadi pohon besar.
3. Teka-teki
      Teka-teki merupakan bahasa berkias, ada sesuatu yang disembunyikan, yaitu isis dan maksudnya. Hal ini sesuai dengan mental bangsa Melayu yang gemar mengatakan sesuatu secara tidak langsung. Contoh :
       Hitam legam seperti hantu
       Putih hatinya kecil berbaju merah, besar berbaju hujau.
       Apabila hendak mati, berbaju merah.
       Jawabannya : buah manggis
4. Fabel
       Fabel adalah cerita mengenai binatang yang dianggap sebagai manusia, dapat berpikir, berperasaan, berperilaku seperti manusia. Pada umumnya fabel mengandung sindirian terhadap perilaku manusia atau mengandung unsur pendididkan moral. Misalnya, cerita kancil dan buaya atau kura-kura dan siput.
5. Cerita Jenaka
        Cerita jenaka adalah cerita yang mengandung unsur jenaka atau humor. Umumnya cerita ini mengandung pendidikan moral, mengisahkan seseorang yang bujaksana dalam menghadapi suatu persoalan. Misalnya, Hikayat Pak Kodok dan Hikayat Lebai Malang.
6. Cerita Pelipur Lara ( CPL )
       Cerita pelipu lara adalah cerita yang bermaksud menghibur orang yang sedih, terutama kaum remaja yang sedang yang sedang terkena asmara. Tukang cerita pelipur lara disebut pawang.
         Cerita pelipur lara memiliki ciri-ciri tertentu, motif, dan jenisnya pun bermacam-macam. Berikut ini akan dijelaskan :
1. Ciri-ciri cerita pelipur lara adalah sebagai berikut :
    a. Selalu ada lukisan yang indah dan berulang-ulang
    b. Kaya dengan fantasi, misalnya bidadari dan kayangan
    c. Pertemuan antara pria dan wanita selalu tokoh perantara yang diberi nama :
        Nenek Kebayan, Bujang Selamat, si Berkat, si Kembang Manik, atau si Kembang Jinak
2. Motif cerita pelipur lara adalah sebagai berikut :
    a. Selalu ada motif impian.
    b. cara mendapatkan wanita dengan mencuri pakaian bidadari sehingga bidadari tidak bisa 
        pulang ke kayangan.
    c. Selalu ada syarat dari wanita
    d. Selalu ada ingkar janji yang mengakibatkan perpisahan.
3. Macam-macam cerita pelipur lara adalah sebagai berikut :
    a. Hikayat Nalim Deman
    b. Hikayat Anggun Cik Tunggal
    c. Hikayat Raja Budiman
    d. Hikayat Raja Ambon
    e. Hikayat si Miskin
       
        
        

Selasa, 18 Agustus 2009

Puisi

     Puisi adalah hasil karya dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Puisi sebagai salah satu krya sastra memiliki ciri-ciri yang juga dimiliki karya sastra lain, yaitu bahasa yang imajinatif. Ini merupakan ciri khas puisi karena keuatan puisi terletak pada kata-katanya.
     Puisi sering sekali menggunakan lambang-lambang untuk menambah penekanan maknanya.
     Unsur-unsur yang membangun puisi, antara lain sebagai berikut :
1. Tema puisi, adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair. Tema bersi
     fat khusus ( diacu dari penyair ), obyek ( semua pembaca harus menafsirkan sama ), dan lugas 
     ( bukan makna kiasan )
2. Nada dan Suasana Puisi, disamping tema, puisi juga mengungkapkan nada suasana kejiwaan. 
    Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca.
3. Perasaan dalam puisi, disadari atau tidak mengungkapkan perasaan penyair. Nada dan    
    perasan penyair akan dapat kita tangkap kalau puisi itu dibaca keras dalam deklamasi. Perasa
    an yang menjiwai puisi bisa perasaan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, sombong
    dan lain-lainnya.
4. Amanat dalam puisi, amanat atau pesan merupakan kesan yang diperoleh pembaca setelah 
    membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca.
Contoh :
                                          Menyesal 
                                     oleh Ali Hasjmi
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
   Aku lalai di hari pagi
   Beta lengah di masa muda
   Kini hidup meracun hati,
   Miskin ilmu, miskin harta
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
   Kepada yang muda kuharapkan,
   Atur barisan di hari pagi
   Menuju ke arah padang bakti,
                                  Sumber : Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa, 2003 : 30
     Tema dalam puis di atas adalah pendidikan. Nada dan suasana dalam puis tersebut adalah nada putus asa. Hal ini dapat kita temukan pada kata-kata yang dipergunakanm oleh penyair, yaitu kata-kata yang mencerminkan keptusasaan. Semantara itu, perasaan dalam puisi itu adalah perasan menyesal karena telah menyiasa-nyiasakan masa mudanya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sekarang yang ada hanyalah sesal yang tiada gunanya. Amanat dalam puisi itu dapat kita tangkap pada bait terakhir yang berbynyi kepada yang muda kuharapkan/ atur barisan di pagi hari/ menuju ke arah padang bakti ! berdasarkan bait terakhir tersebut penyair manasitkan kepada kaum muda untuk mempersiapkan diri menyonsong masa depan.

Senin, 17 Agustus 2009

Konflik Drama

     Konflik drama, ialah ketegangan atau pertentangan dalam drama ( petentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri seorang tokoh, dua orang tokoh, atau kelompok )
Penyeb konflik antara lain : dengan diri sendiri ( konflik batin),antartokoh, budaya, alam/ lingkungan, sosial )
Contoh :
Sulung    : Hem. Di sana kami punya wali negara, bangsa awak. Di sana segala lapangan kerja buka
                  lebar-lebar bagi bangsa awak. Di sana, bagian terbesar tentara polisi, alat negara bangsa
                  awak. Di atas segalanya, kami di sana hidup damai. Rukun berdampingan antara si putih 
                  dan bangsa awak.
Bapak     : Dan di atas segalanya pula. di sana si putih menjadi diperlukan. Dan sebuah bendara 
                  asing jadi lambang kedaulatan, lambang kuasa; penjajahan. Dapatkah itu kau artikan 
                  kemerdekaan ?
( Bapak, B. Sularto )
Konflik yang terdapat dalam kutipan drama tersebut adalah si bapak menerima kenyataan bahwa anaknya telah salah langkah karena menjadi penghianat bangsa dan negara. Terbukti anaknya sangat memuji penjajah ( kulit putih )
Tahapan konflik dapat pula dibagi menjadi awal konflik, konflik, konflik mulai bergerak (konfiksasi), puncak konflik atau klimaks, dan penyelesaian atau antiklimaks (akhir konflik)

Plot / Alur dan Dialog

     Plot atau alur adalah kejadian atau peristiwa dalam drama yang disusun secara logis dan kronologis, saling terkait.
Plot/ alur/ rangka cerita dalam dramal sebagai berikut :
1. Permulaan ( protasis/exposition), yaitu bagian yang mengantarkan/ memaparkan para tokoh, menjelaskan latar cerita, gambar peristiwa yang akan terjadi.
2. Jalinan kejadian ( epitato/ complication ), yaitu bagian yang menggambarkan pertikaian yang dialami oleh tokoh.
3. Puncak laku ( catastasis/ klimaks ), yaitu bagian yang menguraikan peristiwa-peristiwa mencapai titik kulminasi, mencapai puncak ketegangan.
4. Ketegangan menurun, yaitu bagian yang menceritakan ketegangan berangsur-angsur menuju titik balik, menuju kesudahannya.
5. Peleraian ( resolution ), yaitu bagian yang menceritakan pertentangan-pertentangan mulai mereda, seolah-olah ada kesepakatan damai di antara para tokoh.
6. Penutupan ( catastrophe/conclusion/ penyelesaian, yaitu bagian yang menceritakan pertentangan yang dialami para tokoh sudah berakhir atau sudah terpecahkan.
Dialog
     Dialog ( percakapan ) merupakan unsur terpenting dari drama. Dialog merupakan unsur pembeda antara drama dengan jenis karya seni ( karya sastra ) yang lain. Melalui dialog, watak, informasi, alur,  suasana, dan tema dapat dimunculkan

Minggu, 16 Agustus 2009

Nilai-Nilai dalam Novel

     Dalam sebuah karya sastra terkandung nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain : nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti baik dan buruk, nilai sosial, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan norma-norma dalam kehidupan masyarakat ( misalnya saling memberi, menolong, dan tenggang rasa ), nilai budaya, yaitu konsep mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia ( misalnya : adat-istiadat, kesenian, kepercayaan, upacara adat ), dan nilai estetika, yaitu nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan dalam karya sastra ( tentang bahasa, alur, tema )
Contoh :
Dari sebuah kantung di dalam keranjang besarnya, Wak Katok mengeluarkan
daun ramu-ramuan. Mereka membersihkan luka-luka Pak Balam dengan air panas dan Wak Katok menutup luka besar di betis dengan ramuan daun-daun yang kemudian mereka membungus dengan sobekan kain sarung Pak Balam. Wak Katok merebus ramuan obat-obatan sambil membaca mantera-mantera, dan setelah air mendidih, air obat dituangkan ke dalam mangkok dari batok kelapa. Setelah air agak dingin, Wak Katok meminumkannya kepada Pak Balam sedikit demi sedikit.
( Harimau-Harimau, Muchtar Lubis )
Nilai sosial yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah memberi pertolongan kepada orang yang sedang sakit. Karena dalam kutipan diungkapkan, Wak Katok dan teman-temannya memberi pertolongan kepada Pak Balam yang terluka ( membersihkan, mengobati, dan membalutnya ) meminumkannya obat yang mereka buat sendiri.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Sudut Pandang

     Sudut pandang, ialah cara si pengarang mengisahkan/ menceritakan suatu cerita. Sudut pandang terbagi menjadi : orang I, orang III, atau campuran ( orang I dan orang III ).
Sudut pandang I terbagi menjadi : orang I sebagai tokoh utama, contoh : autobiografi, cerita rekaan, tetapi seakan pengarang sendiri yang diceritakan. Orang I pengamat, yaitu pengamat sebagai pengamat, tetapi ada dalam cerita. Kata ganti yang dapat digunakan saya atau aku atau yang sejenisnya, biasa pula disebut sudut pandang akuan. 
Sudut pandang orang III terbagi menjadi : orang III serba tahu, yaitu melaporkan semua tindak tanduk sangat pribadi dari pelaku, dan orang III terarah, yaitu terpusat pada satu karakter. Kata ganti yang dapat digunakan adalah dia, ia, mereka, nama orang, atau kata ganti orang ketiga lainnya, biasa disebut sudut pandang diaan
Contoh
Pak Balam menutup matanya kembali, dan dia terbaring demikian, letih telah
berbicara begitu banyak
Mereka duduk mengelilinginya dengan pikiran masing-masing. Cerita Pak Balam menimbulkan kesan yang dahsyat sekali dalam hati mereka. Mereka ingin dapat selamat sampai ke kampung, meninggalkan hutan dengan harimau maut jauh-jauh di belakang. Akan tetapi, mengakui dosa-dosa di depan kawan-kawan semua.
Harimau-Harimau, Muchtar Lubis
Sudut pandang dalam kutipan tersebut adalah orang III serba tahu karena melaporkan semua tindak tanduk tokoh, yaitu Pak Balam dan mereka.

Latar Cerita

     Latar cerita, ialah keterangan mengenai waktu, ruang / tempat, dan suasana terjadi lakuan dalam karya sastra.
Contoh :
Mereka melihat harimau melepaskan Pak Balam dan terus berlari, menghilang ke dalam hutan yang gelap. Dengan cepat mereka berlari ke tempat Pak Balam terbaring. Dalam cahaya samar-samar dari pohon kayu yang menyala, mereka melihat betapa kaki kiri Pak Balam hancur betisnya karena gigitan harimau, daging dan otot betisnya koyak hingga kelihatan tulangnya yang putih dan darah mengalir amat banyak.
Pak Balam koyak-moyak, dan seluruh badannya penuh dengan luka-luka kecil dan gores-gores merah kena duri, batu, dan kayu ketika dilarikan harimau. Mukanya berdarah keluar dari hidungnya, dari mulutnya Pak Balam kelihatannya pingsan, tak sadarkan diri, dia hanya terbaring di sana mengerang-ngerang.
Harimau-Harimau, Muchtar Lubis
Latar atau tempat, yang terdapat dalam kutipan tersebut adalah hutan rimba karena dalam hutan rimbalah terdapat harimau dan secara tersurat digambarkan pengarang.